Jumat, 20 Juli 2018

Budaya demokrasi dalam pengelolaan Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang


Bandara Ahmad Yani Semarang kini sudah ditingkatkan kelasnya menjadi Bandara Internasional.  Bandara yang  terletak  di tanah  milik TNI AD ini diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 7 Juni 2018 lalu. Penataan dan pembangunan  Bandara ini semata-mata hanya untuk memberikan  pelayanan kepada Publik dalam hal transportasi udara domestik maupun mancanegara.

Terkait tuntutan tersebut  maka berbagai fasilitas  udarapun ditata agar dapat memberikan pelayanan yang memuaskan. Tidak hanya aspek fisik yang menjadi obyek penataan namun juga berbagai aspek non fisik lainnya. Semut itu tadi hanya bertujuan memberikan pelayanan yang terbaik dan paripurna bagi masyarakat.

Seperti baru-baru ini, mungkin sebagian masyarakat kita turut terhenyak tatkala viralnya postingan dari akun https://web.facebook.com/nanetz.nanetz.9/posts/655391878160237 yang cukup menarik dan inspiratif dalam mendeskripsikan aksi Premanisme di Bandara Ahmad Yani.

Beragam tanggapan pun bermunculan , tidak hanya dari masyarakat bahkan pejabat publik teramplifikasi di beberapa media main mainstream yang mengulas postingan Sdr. Natalie, padahal dalam postingannya tidak menyertakan dokumentasi foto atau video yang dapat mendukung keaslian maupun keabsahan berita.

Di era digital postingan foto, video maupun rekaman suara  di Medsos seperti saat inipun sesungguhnya sulit dijadikan sebagai alat bukti. Oleh karennya, konten di Medsos harus di komunikasikan atau di verifikasi berbagai pihak terkait terlebih dahulu sebelum diangkat di media masa yang terikat dengan kode etik jurmalistik

Dalam hal tranportasi di bandara, tentu tidaklah sesederhana seperti di ruang publik lainnya. Terlebih dengan hiruk pikuk aktifitas penumpang domestik dan luar negeri yang berbaur dengan yang lain, maka perlunya penataan fasilitas dan prosedur  yang dapat angnjamin keamanan, keselamatan para penumpang atau masyarakat sekitar serta otoritas bandara itu sendiri.

Tentu tidak banyak yang mengetahui bahwa pegelolaan jasa pelayanan di Bandara Achmad Yani telah merujuk pada Permenhub nomor 56 tahun 2015 yang menyatakan  harus dilakukan melalui perjanjian kerjasama yang saling menguntungkan antara pengelola bandar udara dengan perusahaan jasa terkait. Ini perlu digaris bawahi karena akan menjadi pembatasan hak pilih seseorang di Bandara untuk menentukan sarana transportasi selama berada di areal itu tidaklah sebebas seperti  mencari kendaraan di ruang publik lainnya.

Kita juga sepatutnya menyadari bahwa petugas yang disebut  Preman dalam akun Nathalie tersebut yang merupakan purnawirawan TNI AD yang berpangkat terakhit Pembantu Letnan Satu (Peltu) dan kini untuk bertahan menghidupi keluarganya  sebagai Pengojek Kendaraan Sepeda Motor di Area Bandara, bukanlah orang berkompeten dalam hal pengambil keputusan ataupun seseorang yang pandai dalam mempublikasikan dan memprivacy  media sosial.

Jadi dengan tingkat intelektual dan status sosial yang lebih tinggi, seyogyanya pemilik akun ini dapat melihat sesuatu secara lebih jernih dan bijak serta sedikit berempati terhadap konsistensi penegakan aturan dari otoritas Bandara yang disampaikan oleh sosok  Kakek Tua yang disebutnya berpostur orang Gendut tersebut.

Apalagi jika ternyata, fakta dan realitanya yang menyuruh untuk menurunkan barang tersebut bukanlah sang Purnawirawan tersebut melainkan supir taksi Blue Bird itu sendiri, yang mungkin menyadari bahwa karena belum ada perjanjian kerjasama dengan pihak bandara maka Blue Bird tidak boleh mengangkut  penumpang keluar dari Bandara.

Jika dilihat dari lama operasi Bandara Baru ini dan adanya  komplain dari masyarakat,  maka pelayanan yang dilakukan oleh  Taxi Atlas, Taxi Kosti, Taxi Astria dan Taxi Puri Kencana yang merupakan  mitra Koperasi-S16 Lanumad Ahmad Yani, tentu tidak kalah dengan  Blue Bird.  Kita harus yakin bahwa dengan tidak adanya monopoli Taxi (4 jenis Taxi)  di Bandara internasional Ahmad Yani Semarang akan membangkitkan persaingan pelayanan yang sehat, sebagaimana di tetapkan dalam Permenhub PM.56. THN 2015 Pasal 36 ayat 1.

Pembatasan  pilihan pun  pada dasarnya tidak bertentangan dengan prinsip Demokrasi Indonesia yang menjunjung tinggi prinsip Hak Azasi Manusia, contoh berbeda adalah  dalam kontestansi politik (anggota DPR,  Kepala Daerah dan Presiden sekalipun), termasuk pilihan makanan  ketika menonton film di XXI (penonton dilarang membawa makanan  sendiri diluar yang ditawarkan manajemen), tentu alasannya bukan dari aspek bisnis semata namun untuk menjamin keamanan dan keselamatan baik bagi konsumen maupun pihak internal manajemen.

Tentu kita tidak mau jika Bandara yang demikian megah kemudian menjadi carut marut karena lalu lalang berbagai  alternatif taksi Bandara. Belum lagi, jika terdapat yang dijadikan sebagai alat kejahatan atau teror, yakinlah ujungnya juga akan berjudul " tidak profesionalnya bla..bla..". Kemudian kita juga harus pertimbangkan, berapa banyak kerugian yang akan ditimbulkannya. Selain itu  perlu diingat juga bahwa Bandara tersebut pada dasarnya Pangkalan Udara Utama Militer TNI AD (Lanumad) yang dilandasi  kesadaran dan keikhlasan serta mendukung program pemerintah maka  dapat dipergunakan bersama dengan masyarakat. Mungkin sedikit dari militer dunia yang mengijinkan Bandara nya digunakan bersamaan dengan maskapai penerbangan sipil.

Meski disana terdapat alat perang yang canggih seperti Helikopter, TNI AD tidak egois dengan abaikan kebutuhan masyarakat dalam hal transportasi udara. Namun demikian, sebagai unsur pertahanan negara maka pihak pengelola  Bandara diminta untuk menciptakan ketertiban, kelancaran serta keamanan dan pengaman areal bandara yang ekstra ketat dibandingkan bandara lainnya diantaranya adalah dengan membuat perjanjian kerjasama yang ketat pula.

Jika kita telaah kembali, sesungguhnya pihak bandara tidak melarang calon penumpang menggunakan taksi diluar yang disediakan Bandara, namun hanya membatasi  taksi yang akan mengantar penumpang keluar dari bandara.

Situasi inipun berlaku disebagian besar Bandara, cuma mungkin karena hanya alasan secara psikologi (lapar, lelah, panas, bingung, malas   ataupun lainnya) serta "ketersediaan yang terabaikan atau kendaraan kosong" maka biasanya para  calon penumpang taksi (yang mungkin tidak mengetahui  regulasi pembatasan kendaraan transportasi Bandara) pasti memilih taksi yang baru menurunkan penumpang tersebut. Demikian juga dengan supir taksi, tidak sedikit yang mengetahui namun juga karena alasan setoran, biasanya juga mencoba-coba sampai ada teguran.

Kita tentu pernah merasakan hal yang sama seperti saudari Nathalie tadi,  ketika selesai  perjalanan yang cukup lelah dan hasrat untuk segera tiba di tujuan namun  terkendala rebutan tadi, pasti sangat mudah bagi kita terpancing emosi. Oleh karenanya, mari kita pandang apa yang dialami pemilik akun Facebook bernama Nathalie ini,merupakan yang sangat manusiawi dan harus disikapi secara bijak dan tidak perlu tergesa-gesa gopoh merespon bahkan memviralkan dengan "tekanan nada tulisan" yang agak "mempermainkan emosi dan daya nalar sehat". Apalagi diera digitalisasi seperti  saat ini sangat mudah menyebar dan bahkan menyesatkan persepsi publik dalam belantara Logical Fallacies serta menghakimi tanpa proses hukum.

Yakinlah bahwa dengan skala resiko yang demikian besar, hingga kini tata kelola bandara udara masih jauh lebih baik dibanding dengan otoritas pengelola  transportasi lainnya. Kita tidak perlu membesarkan  sesuatu hal  yang sebenarnya  dapat diselesaikan  hanya dengan  mengucapkan kata " maaf" dan " tolong"  sopan sesuai budaya atau etika maupun Karakter Bangsa yang dambakan  oleh Presiden dan juga saudari Nathalie dalam postinganya, termasuk juga  "ucapan hardikan dan hinaan"  yang merendahkan orang lain.

Selain itu, surat terbuka dari pemilik akun Nathalie ini juga harus di pandang sebagai bentuk kepedulian masyarakat terhadap pengelolaan Bandara, sehingga berbagai pihak yang menjadi stakeholder tidak harus terbakar jenggot, namun harus bisa duduk bersama dalam forum musyawarah untuk mufakat untuk mencari alternatif solusi tanpa harumenghujat atau membully tanpa didasari pada bukti yang valid.

Semoga peristiwa ini bisa menjadi hikmah bagi kita semua khususnya dalam hal etika berperilaku di fasilitas publik yang sifatnya terbatas. Kemudian, semoga kakek purnawirawan yang dideskripsikan  sebagai  sosok yang gendut masih bisa menambah pendapatannya di Bandara,  demikian bagi saudari Nathalie tidak bosan menggunakan fasilitas dan pelayanan bandara yang terletak di aset milik TNI AD dan menjadi kebanggaan masyarakat Semarang ini.

Selanjutnya, Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang juga  terus  berupaya
memberikan dan meningkatkan pelayanan terbaiknya agar semua pengguna bandara dapat merasa aman, nyaman dan berkesan.


Kodim Jepara Laksanakan Operasi Gabungan Miras


Jepara – Kamis malam, Kodim 0719/Jepara Polres Jepara dan Satpol PP Jepara melaksanakan Operasi Gabungan di seputaran wilayah Kabupaten Jepara dengan sasaran  penjual miras (20/07/2018).


Personil operasi gabungan ini terdiri dari 11 anggota Kodim Jepara yang di pimpin oleh Pasi Intel Lettu Inf Mukholik, Personil Polres Jepara sejumlah 11 Personil dengan pimpinan Aipda Sutejo dan Personil Satpol PP sejumlah 13 orang dengan pimpinan Ka Satpol PP Jepara.

Dalam Apel pelaksanaan Operasi gabungan, Ka Satpol PP Jepara memberikan arahan Dalam giat kali ini supaya bisa mendapatkan hasil, Demi menjaga kerahasiaan untuk TO sasaran kita tidak akan kasih tau, nanti sambil jalan dan langsung menuju ke sasaran, karena yang sudah sudah banyak sekali yang bocor sehingga banyak yang tutup.

Sementara Pasi Inteldim Jepara menyampaikan Dari Komandan Kodim mencermati masalah miras yang merajalela di Wilayah Jepara dan peminatnya pun para pemuda, Banyak Kejadian-kejadian yang di sebabkan karena miras dari kejadian perkelahian, sampai tingkat kematiaan yang di sebabkan mengkonsumsi miras, oleh karenanya menjadi tanggung jawab kita bersama dalam menangani permasalahan ini.

Setelah pelaksanaan apel, Tim Gabungan menuju Terminal Lawas dengan sasaran pedagang dan mobil yang biasa di jadikan penyimpanan miras dengan hasil tidak di temukan miras, Komplek Pasar Burung Jepara dengan hasil di temukannya  minuman 7 botol Aqua jenis Oplosan, TPI Ujung Batu Jepara dengan sasaran rumah Bpk Sunarso Desa Ujung Batu Rt 10 Rw 04 Jepara kota dengan di temukan mobil Ertiga milik Bpk Sunarso yang berisi miras antara lain Bir jenis Guines 28 botol, Bir Bintang 2 botol, Minuman oplosan 24 botol, Congyang botol kecil 2 botol dan Tempat hiburan karaoke Pungkruk Ds Mororejo kecamatan Mlonggo (Cafe Moro seneng, Cafe Bunga kemuning, Cafe Permata dan Cafe Diana milik Bpk Sanimin Kusmato) dengan hasil tidak di temukan adanya miras.

Dengan banyaknya sasaran TO yang tidak di temukan miras dan untuk cafe di kawasan Pungkruk banyak yang tutup dan terkunci, adapun cafe yang tidak tutup Cafe Diana milik Bpk Sanimin Kusmanto tidak di temukanya adanya miras di perkirakan giat operasi gabungan ini  sudah bocor sebelumnya.

Sukseskan Swasembada Pangan, Babinsa Ujung Pandan Laksanakan Pendampingan UPSUS MT-II


Jepara – Dalam rangka mewujudkan swasembada pangan yang sudah di canangkan pemerintah melalui kementrian Peertanian, Babinsa desa Ujung Pandan Koramil 06/Welahan Dim 0719/Jepara Serka Mashar melaksanakan Pendampingan UPSUS MT-II bersama Gapoktan subur makmur 1 Desa Ujung Pandan, di lahan persawahan milik bapak H Kojin (55) warga Rt 03 Rw 01 Desa Ujung pandan Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara, dengan luas sawah 0,5Ha, yang ditanami padi jenis ciherang dengan hasil 3,4 Ton, yang ditanam pada awal Bulan April 2018, Jumat (20/07/2018).

Menurut Serka Mashar di temui seusai membantu pelaksanaan panen padi, Sebagai seorang Babinsa harus selalu mendampingi serta membantu warga binaan dalam kegiatan UPSUS MT-II, kegiatan tersebut untuk menumbuhkan rasa kebersamaan antara TNI dan rakyat di Desa binaan, hal ini merupakan kegiatan Babinsa yang sudah sesuai dengan perintah dari Komando atas  baik Danramil 06/Welahan ataupun Komandan Kodim 0719/Jepara untuk selalu membantu masyarakat di desa binaan dalam kegiatan apapun yang dilaksanakan di wilayah dan juga dapat digunakan dengan sarana dan prasarana yang ada guna pendekatan TNI dan Rakyat, jelasnya.

Sambut Sedekah Bumi, Babinsa Sumberejo Bantu Karya Bhakti


Jepara – Serda Yajid anggota Koramil 12/Donorojo yang bertugas sebagai Babinsa di desa Sumberejo melaksanakan Kerja Bhakti bersama warga desa Sumberejo kecamatan Donorojo kabupaten Jepara dalam rangka menyambut acara sedekah bumi dan HUT RI ke 73, Jumat (12/07/2018).

Menurut Serda Yajid sebagai seorang babinsa dirinya harus selalu mengikuti dan monitor setiap kegiatan atau acara di wilayahnya, termasuk kegiatan karya bhakti seperti ini. Dengan kehadiran dirinya, di harapkan menjadi pemicu semangat warga dalam melaksanakan karya bhakti, “ Sudah menjadi tanggung jawab saya sebagai seorang babinsa dalam mengikuti kegiatan di desa, mau siang ataupun malam kalau hal tersebut masih kejangkau sama saya, saya siap datang menghadiri bahkan membantu setiap kegiatan ataupun permasalahan, semua ini saya jadikan ibadah, niat ikhlas membantu warga Insyaallah Allah mencatat amalan kita ini.”, ucapnya.



Up